Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

^Opini>>.
Banner Lapmi

Disewakan Rp.100.000,-/Bulan
Yaki Usaha Sampai
 .:MENU:.
  ::^Home
  :: Berita Utama
  :: Dari Redaksi
  :: Hikmah
  :: Komunitas Jum'at
  :: Tasauwaqu
  :: Profile Alumni
  :: Opini
  :: Kajian Ilmiah
  :: Buku Tamu
  :: Lihat Buku Tamu
  :: Chating
  :: Forum
  :: Link
  :: Free E-mail

Put Your Ad Here
^Opini>>.
 
GA TENTANG INKARNASI INTELEKTUAL MORALIS
Oleh : Suroso P. Andrianto
Ketua Umum HMI Cabang Denpasar

Kehidupan manusia di dunia pada dasarnya diliputi dua unsur yang saling tarik menarik sifatnya, pertama adalah akal yang di dalamnya terdapat unsur rasionalisme dan logika, kedua adalah agama/iman yang terkandung dalam hati dan perasaan manusia. Dalam dunia filsafat rivalitas antara kedua unsur tersebut selalu menyertai dalam perkembangannya. Pada jaman yunani kuno, dimana titik awal pemikiran dunia mulai berpijak yang dipelopori oleh Thales (624-546 SM) juga disebut sebagai Bapak Filsafat dunia telah dimulai dengan pengedepankan akal sebagai titik pijak hakekat kehidupan manusia dan alam semesta. “What is the nature of the world stuff ?”, adalah pertanyaan pertama yang melatarbelakangi lahirnya filsafat diungkapkan oleh Thales sehingga dia mendapatkan julukan “Bapak Filsafat”. Dari pernyataan introgatif itu dapat diketahui, bahwa akal sangat berperan dalam kehidupan manusia saat itu. Mulai masa Thales (624-546 SM) sampai dengan masa Gorgias (427 SM) tidak satupun filsuf yang menyentuh ke kawasan hati, perasaan dan moral manusia, hal ini terlihat pada teori Parmanides, Zeno, Protagoras ; “tidak ada kebenaran yang bersifat obyektif, universal, serta kebenaran yang absolut. Kebenaran hanya diukur dari akal manusia tanpa adanya sumber kebenaran lain di atasnya”. Pada akhirnya Gorgias (427 SM) yang saya sebut sebagai tokoh beraliran pesimisme mengungkapkan, “indera manusia tidak dapat dipercaya, akal tidak mampu meyakinkan, realitas itu tidak ada, bila sesuatu itu ada tidak ada yang dapat diketahui”. Pernyataan ini menunjukkan sikap frustasi dari tokoh abad yunani kuno ini.

Pada dekade berikutnya barulah filsafat menyentuh kawasan hati manusia, Socrates mempelopori gerakan moral ini dengan mengadakan pertentangan terhadap aliran relativisme dan rasionalisme. Socrates berpendapat, bahwa ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung pada saya atau kita. Dari ungkapan tersebut jelas Socrates ingin mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu mahluk Tuhan yang dilingkupi oleh nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang membentuk moral manusia. Usaha Socrates ini akhirnya dilanjutkan oleh Plato dan diakhiri oleh Aristoteles dengan teorinya; Tuhan dapat dicapai dengan akal, dan mengakhiri rivalitas antara akal dan logika. Walaupun demikian Aristoteles masih tetap mempercayai adanya Tuhan.

Kontradiksi dan negasi antara disiplin intelektual dan moralitas tidak berakhir sampai di situ saja dalam konteks historical kemanusiaan. Masa renaisance merupakan bukti historis tentang fenomena kontradiksi, negasi dan dikotomi antara dua disiplin yang sebenarnya merupakan satu kesatuan tersebut. Girolamo Savonarola (1452-1598), seorang tokoh moralis ditentang keras oleh Paus Alexander VI dan akhirnya Savonarola berhasil ditaklukkan oleh Paus Alexander VI.

Voltaire tokoh renaisance, meyakini bahwa adanya moralitas universal yang berlaku umum, tidak terikat oleh ruang dan waktu, Tuhan telah memberikan kode moralitas. Setiap manusia tahu akan kebajikan dan kejahatan. Seiring dengan perkembangan peradapan manusia, maka moralitas juga berkembang. Voltaire meskipun tidak percaya pada surga dan neraka dalam pengertian religius, ia tetap percaya pada immorality (keabadian) jiwa/ruh dan kehidupan alam mendatang.

Pada abad XVIII atau sering disebut dengan Abad Pencerahan (Enlightment Age) terjadi pula pemberontakan intelektual oleh Jean Jaques Rosseau (tokoh yang memiliki jangakauan spektrum intelektual luas dan variatif).Pada abad pencerahan ini perkembangan sain dan teknologi begitu cepat mengakibatkan manusia mengalami perubahan orientasi nilai secara radikal; manusia pencerahan berjuang gigih menaklukkan alam semesta dengan ilmu pengetahuan, serta amat mendewakan akal dan rasio.

Agama, atau sesuatu yang irasional dianggap mitos atau hayalan. Cara berpikir rasional dan logis (sesuai panca indera) yang demikian pesat di abad itu menyebabkan manusia menjadi makhluk rasional. Perasaaan-perasaan atau emosi, atau kepekaan jiwa serta moralitas yang merupakan bagian inherent dalam diri manusia menjadi terabaikan. Unsur-unsur imaterial pada masa itu mengalami pengikisan. Akibatnya manusia abad pencerahan cenderung melihat manusia sebagai makhluk yang tak memiliki perasaan atau emosi. Ia seakan-akan makhluk yang digerakkan rasionya belaka. Rasionalisasi, Rasionalisme dan pengandalan persepsi inderawi sebagai tolok ukur kebenaran menyebabkan manusia kehilangan perasaannya (Ia insesibility). Dalam konteks inilah bisa dipahami mengapa Roesseau ingin mengembalikan manusia ke fitrahnya ; manusia yang mementingkan emosi, perasaan, etika (moral) dan tidak mendewakan rasio serta tidak menganggap manusia sekedar jasad tanpa ruh.

Terlepas dari semua fakta historis di atas, bahwa realitas itu tidak jauh berbeda dengan konteks kehidupan manusia pada abad millenium ini. Manusia cenderung mengutamakan kemampuan intelegensia daripada kemantapan akhlak/moral manusia. Secara filosofis antara kemampuan intelektualitas dengan etika/moralitas idealnya harus selalu berjalan sejajar. Etika (moral) dalam pengertian filosofis harus selalu mengontrol scince behavioristic (aksiologi) dalam perannya. Dalam berbagai segi kehidupan jelas terlihat, bahwa peran moralitas tidak mendapatkan porsi yang adil sehingga terjadilah dekadensi moral dalam kehidupan. Berbagai fakta telah membuktikan akan hal tersebut. Proses internalisasi akhlak dan perilaku manusia tidak dimulai dari kesadaran individu, maka yang terjadi adalah saling menyalahkan.

Gagasan tentang inkarnasi intelektual moralis merupakan upaya penyelarasan, penyeimbangan antara kapasitas intelektualitas dan moralitas yang dimiliki manusia. Karena dalam dimensi ilmiah manusia sepanjang peradabannya sering melupakan kaidah-kaidah /norma-norma yang sesungguhnya merupakan landasan ideal dalam membentuk moral serta dalam penciptaan tingkah laku manusia. Intelektualitas terletak dalam otak manusia sedangkan moralitas terletak pada hati nurani manusia yang telah terinternalisasi melalui akal budi. Kaum intelektual yang bisa berpikir jernih dalam menganalisa berbagai gejala kehidupan sering melupakan nilai-nilai moral yang terkandung dalam kehidupan.

Refleksi fenomenologis di atas sudah selayaknya menjadi bahan konsiderasi bagi kaum intelektual yang intens dengan kehidupan manusia yang bermartabat. Kader HMI yang merupakan embrio intelektual masa depan harus selalu berupaya memberikan porsi yang seimbang antara disiplin intelektualitas dan moralitas dalam dirinya. Pelatihan penajaman analisis harus disertai dengan internalisasi dan apl;ikasi landasan nilai ; ajaran Islam yang terkandung dalam Alquran dan Assunah yang intinya dikemukakan dalam Nilai Dasar Perjuangan. Sebagai bahan konsiderasi perlu disimak tidak satupun filsuf dunia yang terlalu mengandalkan akal/intelektualitas dapat menemukan kebenaran hakiki dari upaya rasional yang dilakukan. Mark Holkheimer tokoh Frankfut School yang merupakan tokoh termuda dalam historis filsafat adalah contoh konkrit. Holkheimer pada mulanya mempunyai keyakinan, bahwa dia mampu merubah dunia dengan akalnya (optimisme tahap pertama sampai optimisme tahap ketiga) tapi menjelang akhir hidupnya dia mengalami masa pesimisme, karena akal yang dimiliki belum mampu berbuat apapun dan akhirnya dia kembali dalam dunia religius untuk mendapatkan kebenaran.satu hal yang perlu dihayati adalah bahwa akal sering kali membawa manusia kepada relativitas kebenaran hakiki. Keseimbambangan antara pengembangan intelektualitas (akal dan pikiral) dan moralitas yang didasari religiusitas (hati dan perasaan manusia) harus tetap dijaga oleh segenap kader HMI demi terbentuknya Muslim intelektual profesional dalam upaya mewujudkan Masyarakat adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT.

Opini Lain


©LapmiNET 2001 | Pengurus \\ Kontak \\ Kritik dan Saran \\ Iklan \\ Kirim Artikel |