|
Bung
Karno adalah seorang Muslim dan di Timur Tengah diakui sebagai
seorang pemimpim Muslim. Tapi di Indonesia, ia lebih dianggap
sebagai seorang pemimpin nasionalis, dari pada seorang pemimpimpin
Muslim. Hal ini berbeda dengan anggapan terhadap Dr. Sukiman
Wirjosandjojo umpamanya. Karena namanya tercantum dalam entry
Ensiklopedia Islam. Barangkali karena Dr. Sukiman adalah seorang
tokoh partai Islam, Ketua Umum Partai Masyumi yang pertama,
sedangkan Bung Karno sendiri dianggap sebagai pendiri Partai
Nasional Indonesia (PNI) yang berhaluan nasionalis. Karena
itu tidak salah untuk menyebut Bung Karno sebagai seorang
nasionalis, katimbang seorang pemimpin Muslim, seperti Mohammad
Natsir. Itulah maka Mohammad Hatta, juga lebih dianggap sebagai
seorang nasionalis, walaupun Hatta banyak menulis mengenai
Islam. Di mata para pengritiknya dari kalangan politisi
Islam, kata Bambang Noorsena (2001), Bung Karno
bukan sosok seorang Islam santri. Itulah saebabnya ia
tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam.
Bung
Karno tak kalah banyaknya menulis tentang Islam, bahkan ia
lebih banyak menulis dan berpidato mengenai Islam, yang mengeluarkan
pemikiran-pemikiran keislaman, katimbang Dr. Sukiman yang
justru lebih banyak berbicara mengenai nasionalisme Indonesia.
Karena itu dari sudut sejarah perlu dipertambangkan kembali
kedudukan Bung Karno sebagai, paling tidak, seorang pemikir
Muslim, yang turut menyumbang, secara cukup berarti, dalam
wacana keislaman. Bahkan Bung Karno boleh di bidang telah
berjasa sangat besar dalam dawah Islam.
Tidak
banyak yang tahu, bahwa Bung Karno, adalah orang kunci dalam
berdirinya Masjid Salman di kampus ITB. Pada suatu waktu,
panitia pendirian masjid Salman pada tahun 1960-an, telah
gagal menempatkan pembangunan masjid tersebut di dalam kampus.
Tapi tiba-tiba Bung Karno menanyakan status rencana pembangunan
tersebut dan menanyakan pula gambarnya dan memanggil panitia
pembangunan. Setelah berdiskusi dan memberi komentar, maka
ia menulis dalam rancana itu aku namakan masjid ini
Masjid Salman, dengan inisial Soek. Itu
berarti Bung Karno sekalu Presiden RI, telah menyetui pendirian
sebuah masjid di kampus. Padahal, pihak rektorat telah menolaknya
yang meminta agar masjid tersebut dibangun di luar kampus.
Dengan demikian, maka Salman adalah masjid kampus
di universitas negeri yang pertama di Indonesia, yang baru
kemudian diikuti dengan berdirinya masjid Arief Rahman Hakim,
di kampus UI, Salemba, masjid Salahuddin, di kampus UGM atau
masjid Raden Patah, di kampus Universitas Brawijaya. Selanjutnya
pendirian masjid kampus itu diikuti oleh hampir semua universitas
yang memiliki kampus. Masjid model Salman ini mengikuti visi
masjid modern yang tidak saja merupakan pusat ibadah (tempat
sholat saja), tetepi juga pusat kebudayaan dan kegiatan dawah
di kalangan terpelajar, khususnya mahasiswa.
Pemberian
nama Salman tidak pula sembarangan. Ini mencerminkan
pengetahuan Bung Karno mengenai Islam. Dalam sejarah Islam,
sahabat Salman dari Parsi, dianggap sebagai seorang arsitek,
yang mengusulkan dan mempimpin pembangunan benteng berupa
parit dalam Perang Chandaq (Perang Parit). Interpretrasi historis
terhadap tokoh Salman ini diterima oleh kalangan cendekiawan
maupun ulama dan menjadi interpretrasi populer yang diucapkan
dalam ceramah-ceramah dan khutbah-khutbah jumat dalam
wacana dawah. Sejak munculnya nama Salman sebagai arsitek
sahabat Nabi, maka profesi arsitek Muslim diakui
dan menjadi populer. Pola arsitektur masjid modern, juga berkembang,
walaupun juga berkat kreativitas Ir. Noekman, yang sangat
dikenal sebagai arsitek Muslim dari Masjid Salman ITB. Dalam
kaitan ini, tidak bisa dilupakan, bahkan Bung Karno sendiri
adalah seorang arsitek.
Tapi
jasa Bung Karno sebagai pemikir-budaya tidak sampai di situ.
Ia menerima pula ide Haji Agus Salim, yang dijulukinya The
Grand Old Man, -- julukan itu juga diterima dan menjadi populer
dalam wacana gerakan Islam di Indonesia --, walaupun Haji
Agus Salim pernah memberikan kritik tajam terhadap gagasan
nasionalisme Bung Karno, untuk membangun Masjid Baitul Rahim,
sebuah masjid di halaman istana negara dengan arsitektur yang
indah, yang seringkali dibandingkan dengan gereja. Visi Bung
Karno tentang masjid mencapai puncaknya dengan pendirian masjid
Istiqlal, yang merupakan pengakuan terhadap jasa umat Islam
dalam perjuangan kemerdekaan, karena Istiqlal artinya adalah
kemerdekaan, yang arsteknya adalah seorang Nasrani, Ir. Silaban.
Itu semua mencerminkan pandangan keagamaan Bung Karno yang
luas dan terbuka. Sulit menemukan pandangan seorang pemikir
Muslim yang se liberal Bung Karno.
Namun
demikian, Bung Karno tetap saja tidak diakui sebagai seorang
pemimpin Islam atau pemimpin umat Islam dan juga tidak diakui
sebagai seorang pemikir Islam. Atau dalam rumusan yang lebih
kena, seperti kata Bambang Noorsena, para pengritiknya
dari kalangan politisi Islam, meragukan kemurnian keislaman
Bung Karno. Syed Husein Alatas, seorang sosiolog Malaysia,
yang lama mengajar di Universitas Singapore, pernah menulis
buku tentang Islam dan Kita, dan dalam buku itu
ia menampilkan empat tokoh nasional Indonesia dan kaitannya
dengan Islam. Di situ ia menyebut Bung Karno sebagai seorang
pemimpin Muslim namun tidak memiliki komitmen perjuangan Islam
dan bahkan secara politis menantang Islam. Tokoh yang disebutnya
pemimpin Islam yang ideal adalah Syafruddin Prawiranegara,
seorang terpelajar yang mempunyai pemikiran tentang Islam
dan memiliki komitmen pula terhadap gerakan dan politik Islam.
Ada dua orang tokoh lagi yang ia bahas, yaitu Sutan Syahrir
dan Tan Malaka. Syahrir adalah seorang yang lahir dari keluarga
Muslim di Minangkabau, tempat kelahiran banyak pemimpin Islam,
antara lain Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir, tetapi ia
ketika telah menjadi pemimpin telah tercerabut (uprooted)
dari lingkungan masyarakatnya dan menjadi tak acuh (indefferent)
terhadap Islam. Sedang Tan Malaka adalah seorang yang masih
mengaku Muslim, mempunyai pengetahuan dan pemikiran menganai
Islam, tetapi pada dasarnya ia adalah seorang komunis yang
ingin memperalat Islam dan kaum Muslim untuk mencapai tujuan
perjuangan komunisme di Indonesia.
Bung
Karno, sebagai seorang Muslim adalah kebalikan dari Syahrir.
Ia memang berasal dari keluarga abangan dan baru pada umur
18 tahun berkenalan dengan Islam. Namun kemudian ia berkembang
menjadi seorang Muslim, walaupun belum bisa atau mungkin juga
tidak mau disebut santri. Walupun begitu, orang seperti A.
Hassan atau Mohammad Natsir, tidak meragukann keyakinannya
terhadap Islam. Barangkali ia tepat disebut sebagai seorang
muslim marginal.
Ada
beberapa faktor yang membentuk persepsi orang terhadap Bung
Karno. Pertama ia dianggap memiliki latar belakang dan masih
dipengaruhi agama Hindu dan Buddha, atau mungkin masih dipengaruhi
oleh apa yang disebut oleh antropolog Clifford Geertz, agama
Jawa. Ajaran pewayangan masdih nampak mempengaruhinya,
walaupun ia adalah seorang yang mendapatkan pendidikan modern
Barat. Kedua, ia sering menyatakan dirinya sebagai penganut
Marxisme atau paling tidak mempergunakan (sebagian) teori
Marxis dalam analisis-analisisnya Dalam suatu rekaman wawancara
yang diberi judul Tabir adalah lambang Perbudan
(Panji Islam, 1939), ia pernah berkata dengan bangga: Saya
adalah murid dari Historische School van Marx. Pernyataan
ini sangat berani, karena pengakuannya itu dikeluarkan justru
ketika ia sedang berebicara mengenai Islam , khususnya pandangan
Islam mengenai perempuan. Tulisan-tulisannya memang menunjukkan
bahwa ia sering mempergunakan metode Marx (walaupun ada yang
menilai ia kurang atau salah memahami metode ilmiah Marx).
Ia bahkan mengemukakan gagasannya mengenai Marheinisme yang
dikatakannya sebagai Marxisme yang disesuaikan dengan
kondisi Indonesia, walaupun menurut ahli sejarah Lereissa,
pahamnya itu sesungguhnya dipengaruhi oleh pandangan seorang
Marxis Rusia, Bakunin. Ketiga, pandangan-pandangan Bung Karno
sering berlawanan atau mendapat kritik tajam d ari pemikir-pemikir
Islam terkemuka, seperti Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad
Natsir. Faktor-faktor itu semua ikut mereduksi citra Bung
Karno sebagai pemikir Islam.
Buku
Religi dan Religiousitas Bung Karno karya Bambang
Noorsena yang memiliki latar belakang keyakinan Kristen Siria,
ikut menjauhkan Bung Karno dari citranya sebagai seorang Muslim
sejati. Paling tidak dikesankan dengan cukup meyakinan, bahwa
paham tauhid yang dianut Bung Karno tidak murni, setidak-tidaknya
menurut paham Islam ortodoks. Disebutkan bahwa bahwa Bung
Karno tidak bertolak dari keluarga Muslim, bahkan pada masa
pra-remajanya dibesarkan dalam suasana Hinddu-Buddha atau
agama Jawa menurut pengartian Geertz. Dikatakan
pula bahwa Bung Karno pernah menyebut dirinya seorang panteis-monoteis
atau paham wahdatul-wujud. Konon, menurut Bambang Noorsena,
Bung Karno pernah mengaku kepada Louis Fischer, penulis biografi
Mahatma Gandhi, bahwa ia adalah sekaligus seorang Islam, Kristen
dan Hindu. Dergan perkataan lain, ia adalah seorang sinkretis.
Itu semua manjauhkan citra Bung Karno sebagai seorang santri
atau seorang Muslim dalam ukuran ortodoks. Tentang hal ini
Noorsena mengatakan bahwa spiritualitasnya yang melintas
batas (passing over) agama-agama itu justru meneguhkan
anggapan sementara orang bahwa Sukarno menempuh jalan sufi.
Itu semua telah mereduksi citra Bung Karno sebagai seorang
Muslim.
Padahal,
Bung Karno, di lain pihak, pernah mendapatkan gelar doktor
honoris causa di bidang tauhid, oleh sebuah lembaga pendidikan
agama yang prestisius, IAIN Syarif Hidayatullah, bahkan juga
mendapat gelar honoris causa di bidang filsafat oleh Universitas
Al Azhar, Kairo, Mesir. Gelar itu tidak mungkin diberikan
oleh sebuah universitas Islam seperti Al Azhar, jika lembaga
itu meragukan iman Bung Karno dalam ketauhidan.
Pada
waktu muda, Bung Karno pernah menjadi anggota Sarekat islam
dan Partai Sarekat Islam. Memang ia kemudian keluar dari partai
itu dan mendirikan sendiri PNI bersama-sama dengan kawan-kawan
nasionalis yang sepaham yang menganut aliran nasionalis
sekuler. Tapi ia tetap mempertahankan citranya sebagai
seorang Muslim, antara lain dengan bergabung dengan Muhammadiyah,
sebuah organisasi yang berfaham tauhid keras (hard
tauhid). Ia bahkan aktif sebagai anggota pengurus lokal, ketika
berada dalam pembuangannya di Berkulu. Sebagai anggota dan
aktivis Muhyammadiyah, Bung Karno pernah mengeluarkan semboyan
yang kemudian menjadi sangat populer dan menjadi semboyan
semua anggota Muhammadiyah, yaitu Sekali Muhammadiyah
tetap Muhammadiyah. Konon ia pernah berwasiat, jika
meninggal dunia, ia diusung dalam keranda yang ditutup dengan
bendera Muhammadiyah. Soekarno muda memang banyak berkenalan
dan dipengaruhi oleh Islam aliran Persatuan Islam
yang diasuh oleh A. Hassan, dimana seorang pemimpin Islam
terkemuka, Mohammad Natsir dididik. Ia pernah pula mengaku
tertarik dan belajar banyak dari pemikiran Ahmadiyah. Tapi
pilihan terakhirnya adalah Muhammadiyah yang beraliran sebersih-bersih
tauhid.
Menurut
riwayat, Bung Karno mulai belajar Islam secara serius, ketika
ia meringkuk di penjara sukamiskin, Bandung, dari mana ia
membaca terbitan-terbitan Persatuan Islam, yang kini mungkin
disebut sebagai aliran fundamentalisme Islam,
sebagaimana Al Islam, Solo, dimana M. Amien Rais pernah lama
belajar. Kegiatan belajarnya makin intensif ketika ia berdiam
di Endeh, Flores. Di situ dan pada waktu itulah ia berkorespondensi
dengan A. Hassan, pemimpin lembaga pendidikan Persatuan Islam
yang mula-mula berpusat di Bandung tapi kemudian berpindah
ke Bangil, Jawa Timur hingga sekarang ini yang dikenal sebagai
penerbit majalah Al Muslimun.
Tapi,
sebelum masa Surat-surat dari Endeh itu, Soekarno
muda sudah memiliki persepsi tenhtang Islam, yang agaknya
ia peroleh dari guru dan sekaligus mertuanya, H.O.S. Tjokroaminoto.
Persepsinya mengenai Islam adalah, bahwa Islam adalah sebuah
agama yang sederhana, rasional dan mengandung
gagasan kemajuan (idea of progress) dan egaliter. Islam sebagai
agama (dengan semangat) kemajuan, pertama-tama dikemukakan
oleh Tirtoadisoerjo, pendiri Sareket Priyayi (1906) dan Sarekat
Dagang Islam (SDI), Bogor-Jakarta (1909). Dalam perjalanannya
mencari Islam itu, Bung Karno permah dituduh ikut dan menjadi
propagandis aliran Ahmadiyah. Ia menolak keras tuduhan itu,
tetepi ia mengaku banyak tertarik oleh literatur Ahmadiyah,
terutama karya-karya Mohammad Ali dan Chawadja Kamaloedin,
yang membawakan tafsiran-tafsiran rasional atas Islam. Sokarno
memang tidak bisa membaca bahasa Arab, karena itu Islam dipelajarinya
dari tulisan-tulisan berbahasa Belanda, Inggris dan Jerman
yang dikuasainya. Pertemuannya dengan aliran Ahmadiyah itu
agaknya diterimanya dari Tjokroaminoto yang juga mempelajari
Islam dari bahasa belanda dan Inggris, termasuk terbitan-terbitan
Ahmadiyah.
Dari
situlah Soekarno muda memiliki persepsi tentang Islam sebagai
agama rasional, sebagaimana dibawakan oleh aliran Ahmadiyah.
Ia juga tertarik kepada aliran Mutazilah yang menamakan
dirinya aliran tauhid dan keadilan (ahl al tauhid
wa al adalah). Ia juga mengenal filsuf-filsus Muslim pada
Abad Pertengahan, seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Karena itu
maka ketika ia memperdalam tentang Islam, ia merasa memiliki
pandadangan dan tafsiran tersendiri tentang Islam.
Di
balik perhatiannya terhadap islam sebagai ajaran, Soekarno
muda sebenarnya menaruh perhatian terhadap masyarakat Islam
atau kondisi umat Islam, dalam konteks kolonialisme dan imperialisme.
Di samping ingin memperdalam ajaran-ajaran Islam, baik dari
segi ibadah maupun siyasah (politik) dan muamalah (sosial-ekonomi),
Soekarno menaruh perhatian terhadap aspek masyarakat dan paham-paham
keagamaannya. Dalam melihat segi-segi kemasyarakatan, Soekarno
yang terlibat dan memimpin pergerakan nasional dan mempelajari
ilmu-ilmu sosial dan sejarah, termasuk membaca karya-karya
Karl Marx, merasa kecewa dan tidak menyetujui paham-paham
Islam tradisional. Soekarno muda, walaupun masih dan ingin
belajar tentang Islam, namun sudah berani menyatakan pendapat-pendapatnya
yang kritis.
Soekarno
muda yang sangat energetik itu, menyerang doktrin taklid dan
sikap menutup pintu ijtihad. Ia menantang kekolotan, ketakhayulan,
bidah dan anti-rasionalisme yang dianut oleh masyarakat
Muslim Indonesia. Ia berpendapat, bahwa Islam telah disalah-tafsirkan,
karena umat Islam dan para ulamanya lebih percaya dan berpedoman
kepada hadist-hadist dan pendapat ulama, dari pada berpedoman
kepada al Quran. Ia pernah meminta kiriman buku kunpulan
hadist Bukhari, karena ia mencurigai beredarnya hadist-hadist
palsu yang bertentangan dengan al Quran. Di sini Soekarno
muda sudah memasuki pemikiran kritik hadist, yang hanya baru-baru
ini saja menjadi perhatian studi akademis. Pandangan Soekarno
itu memang tidak baru, karena tema-tama itulah yang telah
dibawa oleh gerakan Muhammadiyah yang beraliran moderbis.
Karena itu, maka Soekarno muda sebenarnya adalah penganut
paham Islam modernis.
Namun
seringkali ia mempunyai paham yang lebih maju, yang mendahului
zamannya atau lebih maju dari pandangan pemikir-pemikir Muslim
terkemuka pada waktu itu. Misalnya saja, ia menfanjurkan dipakainya
metode materialisme-historis yang diajarkan oleh Marx dalam
mempelajari npaham-paham keagamaan ketika itu. Ia melihat
bahwa paham-paham Islam yang dianggapnya keliru itu dipengaruhi
oleh kondisi masyarakat, khususnya stelsel ekonomi. Ia mengikuti
paham bahwa bukan kesadaran yang menentukan keadaan,
tetepi sebaliknya, keadaanlah yang menentukan kesadaran,
walaupun ia tidak secara persis mengatakan begitu.
Dalam
mempelajari Islam, dimana ia meminta bahan-bahan dari Persatuan
Islam Bandung, ia ingin mencocokkan dengan pandangannya sendiri.
Ia ingin membaca buku The Spirit of Islam yang
terkenal karya Syed Ameer Ali umpamanya, untuk dibandingkan
dengan pandangannya sendiri. Karena ia telah memiliki persepsi
dan asumsi mengenai ajaran Islam, maka ia ingin menampilkan
pandangannya sendiri tentang Islam. Ia berfikir, hendaknya
dilakukan kritik terhadap paham-paham Islam yang tradisional,
untuk kemudian dikembalikan kepada sumber ajaran Islam yang
paling autentik, yaitu al Quran. Anehnya,
Soekarno yang bersemangat itu, menganjurkan dipakainya ilmu
pengetahuan modern (modern science), seperti ilmu-ilmu sosial,
biologi , astronomi atau elektronika untuk memahami al Quran.
Dalam perkataannya sendiri: Bukan sahaja kembali kepada
al Quran dan Hadist, tetepi kembali kepada al Quran
dan Hadist dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum.
Ia bersikap kritis terhadap kitab-kitab tafsir, seperti karangan
Al-Baghawi, Al-Baidhawi dan Al Mazhari, karena tafsir-tafsir
itu belum memakai ilmu pengatahuan modern. Pandangan jauhnya
terlihat dalam ucapannya sebagai berikut:
Bagaimana
orang bisa betul-betul mengerti firman Tuhan bahwa segala
sesuatu itu dibikin oleh Nya 'berjodoh-jodohan', kalau tak
mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui
positif dan negatif, tak mengetahui aksi dan reaksi?. Bagaimana
orang bisa mengatahui firmanNya, bahwa kamu melihat
dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semuanya
itu berjalan selaku awan, dan sesungguhnya langit-langit
itu asal-muasalnya serupa zat yang berlaku, lalu kami pecah-pecah
dan dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air,
kalau tidak mengerti sedikit astronomy ? Dan bagaimanakah
mengerti ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain,
kalau tidak mengerti sedikit history dan archeology?
Pendekatan
inilah yang kelak diikuti oleh scientist Muslim seperti Sahirul
Alim, Ahmad Baiquni atau M. Immaduddin Abdurrahim.
Ia
menganjurkan agar umat Islam itu tidak menengok ke belakang,
termasuk hanya mengagumi dan mengaung-agungkan zaman kejayaan
Islam (Islamic Glory), melainkan melihat jauh kemuka. Kuncinya
adalah membuang jauh sikap anti-Barat secara priori. Ia juga
mengecam sikap tradisional yang disebutnya sebagai semangat
kurma dan semangat sorban. Saran lain yang
dikemukakannya adalah tidak terpakun pada yang halal dan haram
saja, tetapi juga kepada hal-hal yang mubah dan jaiz, dimana
umat Islam mempunyai kemerdekaan berfikir, sesuai dengan hadist
nabi engkau lebih tahu mengenai masalah duniamu
(antum alamu bi umuri duniakum). Tidak saja di lapangan
pemikiran, Soekarno banyak menganjurkan perhatian, tetapi
juga di bidang dawah. Ia mengagumi kegiatan misi Katholik
di Flores dan menganjurkan agar hal yang sama bisa dilakukan
oleh dawah Islam.
Kritik
Soekarno muda memang blak-blakan dan keras, sehingga ia sendiri
merasa bisa disalah-pahami sebagai anti-Islam.
Walaupun menyadari risiko itu, ia tidak berhenti mengkritik
paham-paham Islam yang kolot. Tapi lebih tepatnya, di bidang
dawah ia lebih bersimpati kepada muballig-muballig yang
modern-scientific dan mengacam muballig-mubalkig a
la kyai bersorban dan a la hadramaut. Ia
sangat menghargai umpamanya, muballig seperti Mohammat Natsir
yang menulis Islam dalam bahasa Belanda untuk kaum terpelajar.
Ia
agaknya menginginkan, agar umat Islam mengembangkan segi keduniaanya
yang nabi Muhammad saw telah memberikan kebebasan berfikir.
Dalam rumusannya sendiri ia berkata:
Kita
tidak ingat bahwa Nabi saw sendiri telah menjaizkan urusan
dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia,
membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram
atau tidak makruh. Kita royal sekali dengan perkataan kafir
, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan
cap kafir. Pengetahuan Barat - kafir, radio dan
kedokteran - kafir pantalon dan dasi dan topi - kafir, sendok
dan garpu dan kursi-kafir, tulisan Latin - kafir, ya pergaulan
dengan bangsa yang bukan Islampun - kafir ! Padahal apa-apa
yang kita namakan Islam? Bukan Roch Islam yang berkobar-kobar,
bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan Amal Islam yang
mengagumkan, tetepi .... dupa dan korma dan jubah dan celak
mata !
Kritik-kritik
terhadap Islam tradisional yang kolot, memang terasa tajam.
Tetepi espresi itu sebanarnya justru menunjukkan sikap jujurnya.
Ia tidak takut dicap anti-Islam. Namun sikap yang sangat menghendaki
kemajuan itu agaknya pernah menimbulkan kejengkelan A. Hassan,
sehingga Soekarno mudah dituduhnya telah kebablasan
, sehingga cenderung menghalalkan apa yang dalam fiqih disebut
haram. Soekarno memang banyak mengkritik pemikiran dan cara
berfikir fiqih dan cara berfikir taqlid terhadap ulama terdahulu.
Ia menginginkan berfikir dan melakukan reinterpretasi langsung
kepada al Quran dan Hadist yang sahih, sebab ia percaya
bahwa Hadist yang sahih tidak bertentangan dengan rasionalisme
dan kemoderanan.
Memang
kritik-kritik Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad Natsir,
ada kalanya cukup telak, misalnya dalam mengoreksi paham cinta
tanah air yang bisa menjerumuskan kita ke dalam memberhalakan
tanah air , bangsa dan ras. Kritik semacam itu kelak muncul
lewat tulisan-tuylisan Eric Fromm tentang agama dan psikoalanisis
yang mengingatkan bahwa manusia itu bisa menyembah ras, bangsa,
kekayaan dan seks. Tapi kritik-kritik seperti itu bisa diterimanya
dengan , sehingga ia melakukan koreksi dan defensi terhadap
paham nasionalismenya. Ia bisa cukup mengerti untuk tidak
terjerumus ke dalam syirik yang merusak kepercayaan tauhid
yang murni.
Soekarno
juga tidak merasa dendam terhadap para pengeritiknya, bahkan
ia sangat menghargai pemikiran semacam darti Haji Agus Salim
dan Natsir. Ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI, ia
bahkan mengangkat Natsir sebagai sekretarisnya yang sangat
ia percaya. Banyak yang menyayangkan bahwa hubungan Natsir-Soekarno
itu retak. Kalangan Islam sendiri banyak menyayangkan sikap
Natsir umpamanya, mengapa ia tidak memelihara hubungan dengan
Soekarno, malahan lebih dekat dan dalam politik bahkan mengikut
kepada Syahrir. Padahal Syahrir adalah juga seorang Marxis
atau sosialis. Tapi berbeda dengan Soekarno yang memiliki
empati yang sangat besar terhadap Islam, Syahrir adalah orang
yang sama sekali tidak peduli terhadap Islam. Banyak yang
menjelaskan bahwa Natsir telah terjebak dalam ikatan etnis
dengan Syahrir dan Hatta yang sama-sama orang Minang, sedangkan
Soekarno adalah orang Jawa. Padahal Syahrir menyatakan rasa
tidak suka dan bahkan kebenciannya terhadap Soekarno. Itulah
sebabnya, pada akhirnya, Bung Karno merasa lebih dekat dengan
orang-orang PKI yang mendukungnya, paling tidak tidak memusuhinya.
Bahkan secara politis, Bung Karno merasa lebih dekat dengan
NU daripada dengan Masyumi.
Kritik-kritiknya
terhadap paham Islam tradisional, betapapun tajam dan kerasnya.
Kritiknya yang jelas terpampang dalam tulisannya yang berjudul
Tabir adalah lambang Perbudakan: Tabir tidak diperintahkan
oleh Islam. Tapi di sini, nampak prasangka baik
Bung Karno terhadap Islam. Ia tidak menantang ajaran Islam
itu sendiri, melainkan mengatakan bahwa tabir itu tidak diperintahkan
Islam. Ia tidak percaya bahwa mensekat kelompok laki-laki
dan perempuan itu adalah perintah Islam. Pandangan Bung Karno
itu ternyata dibenarkan oleh Haji Agus Salim. Tapi sikap Bung
Karno sendiri tegas dan uncompromising. Ia bahkan pernah protes
dengan meninggalkan suatu pertemuan Muhammadiyah, karena pertemuan
itu membuat tabir, padahal ia melihat tabir adalah lambang
perbudakan perempuan.
Pandangan
Soekarno tentang perempuan, ternyata adalah contoh dari pandangan
yang mendahului zamannya. Pandangannya yang lengkap tentang
perempuan menggerakkannya untuk menulis sebuah buku yang berjudul
Sarinah, sebuah buku yang sanggup menimbulkan
rasa haru. Orang bisa menangis membaca buku itu. Jauh sebelum
timbulnya wacana modern mengenai gender, Soekarno telah memiliki
faham tentang feminisme. Pandangannya itu bisa dikatakan mengikuti
aliran Marxis. Di situ ia berpendapat bahwa diskriminasi terhadap
perempuan itu berakar dari stelsel sosial-ekonomi. Penindasan
terhadap perempuan adalah bagioan dari kapitalisme dan imperialisme.
Karena itu untuk membebaskan kaum perempuan, yang harus dilakukan
adalah memberantas stelsel produksi.
Dalam
buku Sarinah itu Bung Karno juga mengemukakan
sebuah pandangannya tentang agama. Disitu ia menguraikan evolusi
pandangan keagamaan, mengikuti tahap-tahap perkembangan masyarakat.
Pandangannya sejalan dengan teori evolusi August Comte. Sesuai
dengan perkembangan masyarakat yang berdasarkan stelsel produksi
(dalam istilah Marxis modern mode of production dan social
formation), maka agama yang dipeluk masyarakat juga mengalami
perubahan, dari mula-mula menyembah roh yang terdapat pada
benda-benda dan roh nenek moyang (animisme dan dinamisme),
kepada menyambah berhala, dan kemudian pada masyarakat agraris
orang mulai mengenal Tuhan yang Maha Esa. Konsekuensi dari
teori evolusi ini adalah bahwa kelak, setelah orang menguasai
ilmu pengetahuan dan lingkungannya, kepercayaan kepada Tuhan
akan dengan sendirinya hilang. Marx sendiri juga berpendapat
bahwa agama itu tidak perlu dimusuhi, karena agama hanyalah
m,anifestasi dari ketertindasan dan alinasi.. Yang harus dilakukan
adalah merubah masyarakat itu sendiri, dengan melenyapkan
segala bentuk penindasan. Analisis tersebut sebenarnya rawan
dan memungkinkan pencemaran citra Bung Karno sebagai pemikir.
Orang bisa menarik kesimpulan, bahwa Bung Karno itu jatidirinya
lebih Merxis daripada Muslim.
Tapi
hal itu tidak benar, karena ketika mengusulkan philosopische
gronslag bagi negara Indonesia merdeka, disamping menawarkan
ideologi-ideologi modern, seperti humanisme, nasionalisme,
demopkrasi dan sosialisme, ia tidak lupa mengusulkan sila
Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dalam pemahaman Muslim adalah
ajaran tauhid. Karena itu, betapapun Bung Karno terseret
dalam metode berfikir Marxis, tetapi ia tetap seorang Muslim.
Dalam
perkembangan pemikiran Islam kemudian, ternyata muncul juga
paham keislaman yang menyerap Marxisme, seperti paham yang
ditawarkan oleh Ali Syariati. Teolog Muslim Mesir modern,
Hasan Hanafi juga menawarkan faham Islam Kiri.
Kecenderungan Bung Karno terhadap Marxisme itu sebenarnya
menunjukkan bahwa Soekarno adalah orang yang berfikiran maju,
terbuka dan ilmiah. Tapi Bung Karno tidak menelan mentah-mentah
Marxisme. Ia ingin agar Marxisme, yang kekuatan utamanya adalah
mampu menelanjangi kapitalisme dan imperialisme
itu, disesuaikan dan mampu mengisi nasionalisme Indonesia.
Terhadap Islampun juga, ia tidak menolak Islam. Bahkan, pada
tahun 1927 pun, Soekarno telah menampilkan tiga ideologi yang
paling maju dan progresif, dengan ciri utamanya, anti kapitalisme
dan imperialisme, yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.
Pemikirannya itu boleh disebut sangat berani dan memberikan
kualifikasi Soekarno sebagai seorang intelektual yang berani
melakukan sintesa terhadap paham-paham terkemuka di dunia.
Ia bahkan beranmi mensintesakan Islamisme dengan Marxisme
yang dalam pandangan umum bertentangan satu sam lain. Soekarno
muda sendiri tertarik kepada Islam karena wacana Sheikh Mohammad
Abduh dan syed Jamaluddin Al afghani yang dikenal sebagai
pelopor faham Islam modernis yang dikiuti oleh Masyumi dan
Muhammadiyah.
Soekarno
muda mengakui adanya apa yang disebut Islamisme yang merupakan
sebuah ideologi, seperti Marxisme dan Nasionalisme. Islamisme
itu kelak dikembangkan oleh Nurcholish Madjid, ketika ia menjadi
salah seorang Ketua HMI pada tahun 1965. Tapi konsep Islamisme
itu sendiri tidak lagi berkembang, selain beberapa tulisan
Mohammad natsir tentang konsep negara dalam Islam atau islam
sebagai dasar negara yang masih bersifat sangat umum. Hal
ini menunjukkan betapa telah majunya pemikiran Bung Karno
mengenai kemungkinan dikembangkannya sebuah ideologi Islamisme.
Disini kita tidak melihat bahwa Bung Karno itu anti Islam-politik.
Cuma Bung Karno berfikir bahwa Islamisme itu hendaknya mampu
menyerap Marxisme dan bercorak nasionalis. Ia bahkan mencoba
menunjukkan adanya persamaan antara Islamisme dan Marxisme,
sebagaimana dilihat juga oleh Ali Syariati. Dalam suatu
karangannya, Soekarno menjelaskan:
Kaum
Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme
itu, ialah musuh Islamisme pula ! Sebab meerwarde sepanjang
Marxisme, dalamn hakekatnya tidak lainlah daripada riba sepanjang
faham Islam. Meerwarde, ialah teori: memakan hasil pekerjaan
lain orang, tidak memberi bahagian keuntungan yang seharusnya
menjadi bahagian kaum buruh yang bekarja
mengeluarkan untung itu, -- teori meerwarde itu disusun oleh
Karl Marx dan Frederich Engels yang menarangkan asal-asalnya
kapitalisme terjadi. Meerwarde inilah yang menjadi nyawa segala
peraturan yang bersifat kapitalistis; dengan memerangi meerwarde
inilah kaum Marxisme memerangi kapitalisme sampai pada aker-akarnya
!
Atas
dasar keterangan tentang adanya persamaan antara Islamisme
dan Marxisme paling tidak dengan melihat persamaan konsep
weerwarde dan riba itu, maka Soekarno menganjurkan agtar jangan
hendaknya umat Islam memusuhi Marxisme, bahkan mengambil Marxisme
untuk menjelaskan ajaran Islam. Tapi yang terlebih penting,
ia menghandaki persatuan antara tiga paham itu dalam mendukung
perjuangan Indonesia merdeka. Pada akhirnya, jati diri Soekarno
adan seorang nasionalis. Itu semua menunjukkan keberanian
berfikir dan kejujuran berfikir seorang Muslim seperti Soekarno.
Pandangannya
yang menyeluruh dan terbuka menganai islam digambarkan dalam
karangannya dalam Panji Islam (1940) tentang Me muda
kan Pengertian Islam. Dalam karangannya itu ia antara
lain mengemukakan preporisi tentang flkesibilitas hukum Islam.
Ternyata pandangannya ini dikecam secara tajam dan sinis oleh
A. Hassan. Padahal, Soekarno hanyalah mengutip pandangan Sayid
Ameer Ali dalam bukunya The Spirit of Islam. Cuma
Soekarno mempergunakan istilah yang kurang tepat, yaitu mengumpamakan
fleksibilitas itu dengan karet, sehingga ditangkap oleh A.
Hassan, bahwa Soekarno menganggap hukum Islam itu seperti
hukum karet: hukum yang jempol haruslah seperti karet,
katanya, dan kekaretan ini adalah teristimewa
sekali pada hukum-hukum Islam. Padahal menuruit citranya,
hukum itu haruslah tegas untuk men jamin apa yang disebut
kepastian hukum.
Faktor
yang mereduksi citra Bung Karno sebagai pemikir Islam adalah
pandangannya yang cenderung menyetujui langkah Turki yang
memisahkan agama dan negara. Dengan perkataan lain Soekarbo
adalah seorang nasionalis sekuler sebagaimana Kemal Ataturk.
Kesan ini memang ada benarnya, tetapi dengan catatan. Disamping
ingin memisahkan agama dari negara, di lain pihak Soekerno
juga menghendaki revitalisasi Islam sebagai gerakan masyarakat.
Pandangannya ini sejalan dengan keterangan Talcot Parsons
yang menyerahkan kemabli agama kepada masyarakat. Sebab agama
yang dipersatukan dengan negara akan menciptakan sebuah negara
teokrasi yang otoriter, yang menghambat dinamika berfikir
dan dinamika perkembangan masyarakat. Karena itu maka Soekarno
adalah penganut apa yang kini disebut sebagai Islam
liberal di satu pihak dan Islam dinamis
(meminjam wacana mutakhir) di lain pihak.
Tapi
perkiraan Bung Karno itu ternyata tidak terbukti benar, karena
sekularisme ternyata sangat menghambat perkembangan pemikmiran
Islam, seperti telah terjadi di Turki. Sekularisme ternyata
juga bisa menghasilkan suatu rezim otoriter dan di Turki didukung
dengan pengaruh militer atas kehiodupan politik. Kaum militer
umpamanya, mencegah rekonsiliasi Turki dengan dunia Islam
dan mempertahankan citra Turki sebagai bagian dari Eropa Barat,
sementara kehendak elite politik Turki itupun ditolak oleh
negara-negara Eropa Barat. Pemerintah Turki ternyata bertindak
otoriter ketika memaksa Perdana Mentari Erbakan turun dari
kekuasaannya, padahal Erbakan duduk di pemerintahan dengan
memenangkan pemilu.
Dalam
tulisannya mengenai memudakan pengertian Islam
itu Bung Karno sebenarnya ingin memajukan Islam dan masyarakat
Islam. Ia ingin agar Islam yang telah dimudakan itu mampu
membawa dan menjadi motor perubahan kemasyarakatan. Hanya
saja di dalam kehidupan politik, Bung Karno tidak menyetujui
penggunaan simbol Islam. Ia ingin Islam masuk ke dalam paham
kebangsaan. Ia juga mengecap sistem ketata-negaraan Islam
menyetujui sistem demokrasi parlementer yang dianggapnya sebagai
demokrasi borjuis itu. Agaknya ia berharap Islam mempunyai
konsep sendiri mengenai demokrasi yang mengarah kepada gagasan
demokrasi terpimpin , yang kira-kira demokrasi
yang berdasarkan permusyawaratan darupada berdasarkan kebebasan
yang memberi peluang. Bagi tumbuhnya kapitalisme itu.
Sebenarnya
Bung Karno tidak sepenuhnya setuju dengan model Turki. Ia
bahkan menampakkan simaptinya terhadap model Mesir yang ingin
mendamaikan agama dengan negara. Hanya saja, pengertian tentang
Islam oleh kaum Muslimin itu perlu diluruskan dengan pengetahuan
modern. Bukan di dalam persatuan agama dan negara, bukan
di dalam sistem yang menentukan Islam menjadi pedoman bagi
segala gerak-geriknya negara, terletak nya sebab kemunduran
dunia Islam, katanya tetapi di dalam salahnya
pengertian tentang agama. Di dalam kesalahan tafsir inilah
letaknya sumber kebencanaan. Di dalam kesalahan tafsir inilah
letaknya segala kesalahan pula. Islam tidak menghalagi kemajuan,
demikian tekannya, Islam hanyalah salah ditafsirkannya,
salah diinterpretasikannya. Mesir lantas membuat interpretasi
yang membuat pintu buat kemajuan. Turki berbuat radikal, Mesir
berbuat kompromintis.
Di
dalam spektrum kepemimpinan Islam di Indonesia, Bung Karno
menduduki posidsi yang unik. Ia menyumbangkan pemikiran-pemikiran
Islam dengan analisis ilmu-ilmu sosial modern yang tidak dilakukan
oleh pemimpin Islam manapun. Jika seandainya tidak ada orang
seperti Bung Karno di kalangan umat Islam, seorang Bung Karno
perlu ditemukan, separti kata-kata Paul Samualton
terhadap Milton Friedman, bahwa seorang seperti dia should
be invented. Karena itu diskusi ini sebenarnya dimaksudkan
untuk melakukan rediscovery mengenai Bung Karno sebagai pemikir
Islam yang orisinal. Dan bukannya kontroversial. Upaya ini
merupakan argumen bahwa Bung Karno bukanlah seorang sikretis,
melainkan seorang penganut agama tauhid yang murni, sebagaimana
ia mengidentifikasikan dirinya sebagai Muhammadiyah.[Sumber
Paramadina.com]
Opini Lain
|