|
Berita
Utama
Refleksi
Penindasan HAM di Aceh, Maluku, dan Poso
Tragedi
kemanusiaan yang terjadi di tanah air terus menjadi perhatian
kaum muslimin di berbagai wilayah. Tragedi kemanusiaan yang
terjadi di Maluku, Poso dan Aceh yang telah merenggut banyak
korban jiwa memanggil para pemuda muslim dari Kesatuan Aksi
Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bandung untuk mengadakan
Stadium General Umat Islam Menggugat, dengan tema Refleksi
Penindasan HAM di Aceh, Maluku dan Poso.
Acara
tersebut berlangsung pada hari Jumat (31/8) pukul 13.20 bertempat
di masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB). Ratusan
mahasiswa dari berbagai kampus nampak memenuhi masjid berkapasitas
mencapai ribuan itu. Sebagai pembicara, hadir Heru Susetyo,
SH (Ketua Paham Pusat), Mashadi (Anggota Komisi I DPR-RI)
dan Mohammad Mahendradatta, SH (koordinator Tim Pengacara
Muslim). Selanjutnya
Opini
BUNG
KARNO SEBAGAI PEMIKIR ISLAM
Oleh : M. Dawam Rahardjo
Bung Karno adalah seorang
Muslim dan di Timur Tengah diakui sebagai seorang pemimpim
Muslim. Tapi di Indonesia, ia lebih dianggap sebagai seorang
pemimpin nasionalis, dari pada seorang pemimpimpin Muslim.
Hal ini berbeda dengan anggapan terhadap Dr. Sukiman Wirjosandjojo
umpamanya. Karena namanya tercantum dalam entry Ensiklopedia
Islam. Barangkali karena Dr. Sukiman adalah seorang tokoh
partai Islam, Ketua Umum Partai Masyumi yang pertama, sedangkan
Bung Karno sendiri dianggap sebagai pendiri Partai Nasional
Indonesia (PNI) yang berhaluan nasionalis. Karena itu tidak
salah untuk menyebut Bung Karno sebagai seorang nasionalis,
katimbang seorang pemimpin Muslim, seperti Mohammad Natsir.
Itulah maka Mohammad Hatta, juga lebih dianggap sebagai seorang
nasionalis, walaupun Hatta banyak menulis mengenai Islam.
Di mata para pengritiknya dari kalangan politisi Islam,
kata Bambang Noorsena (2001), Bung Karno bukan
sosok seorang Islam santri. Itulah saebabnya ia tidak
diakui sebagai seorang pemimpin Islam. Selanjutnya
Profile
Alumni
Prof.
Dr. Nurcholish Madjid
Ketua
Umum, PB HMI (Pengurus Besar, Himpunan Mahasiswa Islam), 1966-1969
dan 1969-1971.
Prof.
Dr. Nurcholish Madjid dilahirkan di Jombang tanggal 26 Muharram
1358 (17 Maret 1939), dari keluarga kalangan pesantren. Pendidikan
yang pernah ia tempuh antara lain Sekolah Rakyat di Mojoanyar
dan Bareng (pagi), dan Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar (sore);
Pesantren Darul 'Ulum di Rejoso, Jombang; KMI (Kulliyatul
Mu'allimin al-Islamiyyah) Pesantren Darus Salam di Gontor,
Ponorogo; IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta (Sarjana Sastra
Arab, 1968); dan Universitas Chidcago di Chicago, Illniois,
Amerika Serikat (Ph.D., Islamic Thought, 1984).
Cak
Nur juga aktif dalam gerakan kemahasiswaan. Pada periode tahun
1966-1969 dan 1969-1971 beliau menjabat sebagai Ketua Umum
PB HMI. Beliau juga menjadi Presiden pertama PEMIAT (Persatuan
Mahasiswa Islam Asia Tenggara) pada tahun 1967-1969, dan menjadi
Wakil Sekjen IIFSO (International Islamic Federation of Students
Organizations) pada tahun 1969-1971.Selanjutnya
|